“Bagai sepasang merpati menuntut keadilan untuk dibebaskan dari sangkarnya.”
To the point and the main, yah… Ada yang membuatku nggak asyik selama mengikuti kasus Ariel Peterpan; aku melihat ada ketidakadilan dalam kasus ini. Sesuatu yang dipaksakan. Bahwa kasus lain yang melibatkan pesohor lain tak diteruskan. Bahwa seseorang yang tidak menggunakan uang tapi hatinya sendiri harus berjibaku melawan penegak hukum yang tak seorangpun tahu benar apakah mereka benar-benar layak menjadi penegak hukum.
Ini bukan masalah aku ‘fans’-nya Ariel lantas aku membelanya. Aku tidak membelanya. Aku membela yang menurutku benar. Ketika pertama tahu ada video porno itu, aku pun mulanya dingin. Sedari dulu aku tahu ‘idola’ku ada kemungkinan melakukan ini. Ketika akhirnya forum pembela islam teriak-teriak dalam demonya, aku masih dingin. Hari gini kita nggak tahu siapa yang lebih setan atau lebih malaikat. Jawabannya aku tahu belakangan: keTuhanan itu privat, di balik betapa berdosanya kita, dan kita bukanlah hakim moral yang berhak menunjuk seseorang itu kafir atau mukmin. Itu tugas Tuhan. Tuhan yang tahu. Tugas kita adalah menjadi pribadi yang lebih baik, terus belajar dan menyebarkan kebaikan sebanyak mungkin di muka bumi.
Teman saya berkata kira-kira begini, “Jika kesalahan direspon dengan telunjuk yang menuduh alih-alih memahami, yang bersalah akan lari dari kita yang bermaksud menunjukkan kebaikan kepada yang bersalah itu. Kesalahan mestilah direspon dengan kasih, bukan kekerasan.”
Wallahua’lam. Riel, kau yang begitu, kau yang bersujud kepada-Nya pula, hanya Ia yang tahu, yang mampu menyayangimu. May His strength within you. Amen.