Andai ia ada di sampingku sekarang, aku akan menatap dirinya lekat-lekat. Menimbang makhluk seperti apa ia ini, yang mampu menjadikanku ingin menjadi seperti dirinya. Umurnya masih 24, aku yang pilih. Matanya tak pernah menatap pasti, selalu nanar dan seringkali menerawang ke alam pikirnya sendiri (yang justru membuatku semakin asyik saat menatapnya lekat-lekat). Aku selalu bertanya-tanya, tahukah ia…?
Ia selalu ku anuti, sebab tak ada yang seberani dirinya. Ia pemantik api beraniku. Ia pula yang mengepungku dengan asap hidup yang kelabu, yang selalu bimbang dengan perasaanku sendiri. Sekarang lebih 60 tahun telah berlalu. Buku-buku yang ia baca tak pernah ku baca karena terlampau kuno menurut fikir mudaku.
Ril, banyak yang suka karyamu, kau tahu? Dulu kau dicibir dan dimusuhi… Tanggal matimu tak pernah jadi Hari Sastra yang resmi.
Sekarang hidup sangat modern, Ril. Kau tahu? Aku tak tahu apa yang akan kau katakan jika kau menyaksikan semua ini. Tahun ‘42 kau lihat perang, tahun 2011 dendam masih mengurat-akar di dada mereka. Tahun 2000 kian spiritual. Kau yang maunya lepas dari agama, tak mau menukar diri dengan hari esok… Hari ini begitu terasa terang harapan ttg tawaran surga dengan bidari seribu itu. Kau tak perlu mati dulu, hari ini telah jadi seterang esok, Ril.
Tapi itu tadi… Mereka yang tak kenal tawaran ini kian menjadi. ‘Kini atau tidak selamanya’, itulah moto hari ini bagi sebagian besar manusia. Sebagian besar yang hidup di kota semakin menggila saja. Ya, mereka itu yang kau sebut ‘orang kantoran’, yang kini semakin nyata saja di mata seni, mereka tak punya waktu untuk menjadi kehidupan mereka sendiri. Dari 365 hari bagi puluhan tahun hidup mereka, mereka menjalankan rutinitas yang sama. Tak masalah bagi mereka yang terus berinovasi, tapi aku merasa kikuk dengan mereka yang pekerja, dengan mereka yang buruh… Sedih dan kalut jadi satu.
Ril, Aku seakan mengerti bila ini terjadi, bertemu denganmu, pada usiamu yang ke-24, entah dengan alat mesin waktu macam apa (atau tepatnya dengan alat reinkarnasi macam apa) kemungkinan besar kau tak mau tahu aku. Hidupmu terus untuk dirimu, hidupmu, matimu, yang kian hari kian dekat saja. Aku hanya sepi, Ril, dan tak tahu meski membagi yang macam ini dengan siapa. Aku takut diasingkan karena sepi ini. Meski jika aku ingat slogan-slogan kehidupan yang besar, aku bisa saja terbesarkan hati.
Aku baca lagi Arief Budiman, Sebuah Pertemuan. Jenius sekali ia menelisik puisi-puisimu itu. Tambah-tambah rasanya aku ingin duduk begini denganmu. Bertanya-tanya bagaimana bisa, untuk apa, kau tercipta demikian ini. Kau teman dalam sepi, ketika dunia ‘menista lain gila’, seperti anjing mengejar ekornya sendiri, tak habis-habis sampai Tuhan hancurkan apa yang kami usahakan untuk hancur, nanti. Aku hanya kanak-kanak, lemah, tak mengerti, tak berdaya, ‘sekali tetak tentu rebah’, tapi tidak, Ril. Kadang aku merasa aku tak mau kalah dengan lemah ini, meski ia sering mencuri-curi waktu, menari-nari di benakku.
Tentang pemuda, remaja…yang ‘tak tahu apa nasib waktu’, yang akhirnya harus kalah dengan keadaan… Semoga akan ada yang mampu memberi arti pada kami, yang masih terus tumbuh dan bukannya pengecapan label ‘anak kemarin sore’, dsb. Andai kau tahu, perjuanganmu masih ‘belum selesai, belum apa-apa’, bagi kehidupan yang ‘merdeka dari’, apalagi yang ‘merdeka untuk’.
Semoga kau tenang di sana, setelah sebelum ‘ia’ datang menjemput, ada kemungkinan kau telah menyerah padanya… Sementara aku masih ingin menyelami Newton, Disney, dan Einstein. Sedang Muhammad dan Isa adalah harapan. Aku harap ilmu pengetahuan akan dapat membuktikannya: hakikat manusia. Hmmm… Andai engkau tahu…
Posting ini juga bisa Anda temukan di blog saya yg lain poeticarine.tumblr.com